Dalil Wajibnya Menghadap Kiblat

Dalil yang menunjukkan wajibnya menghadap kiblat adalah tegas, yaitu firman Allah Ta’ala:

Maka Palingkanlah wajahmu ke arah masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya. (Q.S. al-Baqarah: 150). 

Diriwayatkan oleh al-Bukhari (5897), dan Muslim (397), bahwa Nabi SAW berkata orang yang beliau ajari bagaimana cara shalat:

 اِذَا قُمْتَ اِلَى الصَّلاَتِ فَاَسْبِغِ الْوُضُوْءَ، ثُمَّ اسْتَقْبِِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ 

Apabila kamu hendak shalat, maka berwudhu’lah dengan sempurna, kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah. 

Dan yang dimaksud al-Masjidil Haram dalam ayat dan al-Qiblat dalam hadits, ialah Ka’bah. 

SEJARAH DISYARI’ATKANNYA MENGHADAP KIBLAT 

Al-Bukhari (390), dan Muslim (25) telah meriwayatkan dari al-Barta’bin ‘Azib RA, dia berkata:

 كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَََلَّى نَحْوَبَيْتِ الْمَقْدِسِِ سِتَّةَ عَشَرَاَوْسَبْعَةَ عَشَرَشَهْرً، وَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ اَنْ يُوَجَهَ نَحْوَالْكَعْبَةِ، فَاَنْزَلَ اللهُ: قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاءِ، فَتَوَجَّهَ نَحْوَالْكَعْبَةِ 

Pernah Rasulullah SAW shalat menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Sedang Rasulullah SAW menginginkan disuruh menghadap ke Ka’bah. Maka, Allah pun menurunkan “Sesungguhnya kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit......”Oleh karena itu, beliau pun menghadap ke Ka’bah. 

Jadi, disyari’atkannya menghadap Ka’bah dimulai pada masa-masa awal hijrah Nabi SAW ke Madinah. 

CARA MENGHADAP KIBLAT 

Ada orang yang shalat di dekat Ka’bah, di mana ia bisa melihatnya, kalau dia mau. Dan ada pula yang jauh dari Ka’bah, sehingga tidak mungkin melihatnya. 

Bagi orang yang berada di dekat Ka’bah, dia wajib menghadap kepada bangunan Ka’bah secara yakin. Sedang orang yang jauh dari Ka’bah, dia wajib menghadap kepada bangunan Ka’bah, dengan bersandar kepada petunjuk-petunjuk zhaniyyah yang menunjukkan arah Ka’bah, manakala tidak dapat menggunakan petunjuk yang qath’i (pasti).